13 Oktober 2021

PKMK – Yogya. Rabu, 13 Oktober 2021 Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan menyelenggarakan pembukaan Forum Nasional Kesehatan ke-11 untuk topik 2 dengan judul “Ketahanan Sistem Kesehatan: Penguatan sistem kesehatan menggunakan pembelajaran dari pandemi COVID-19”.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia, PKMK FK – KMK UGM dengan dukungan Knowledge Sector Initiative (KSI) bersama Universitas Trisakti, Stikes Al Insyirah, Universitas Jember, Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Dehasen, Universitas Mataram, Universitas Sumatera Utara, Poltekkes Kemenkes Malang, Universitas Cenderawasih, Universitas Hassanudin, Universitas Mulawarman, Universitas Trinita, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Jambi dan Univeristas Padjajaran. Topik 2 ini dimoderatori oleh dr. Sandra Frans, MPH.

Pada topik ini, terbagi atas tiga sesi yang pertama adalah sesi pemaparan policy brief tentang pandemi COVID-19 dari tiga peserta yang terpilih dengan judul, yaitu: 1) Berbedakah Respon Masyarakat Urban (Kota Medan) dan Rural (Pinggiran Kota Medan) Terhadap COVID-19? Apa Intervensi yang terbaik?; 2) Pelayanan ramah tamah anak era Pandemi COVID-19 di Puskesmas Kota Medan; 3) Respon Masyarakat Medan tentang Kebijakan Penanggulangan Pandemi COVID-19.

Sesi Keynote Speech

Untuk mengantar pada sesi kedua mengenai “Pembelajaran Respons Sistem Kesehatan di masa Pandemi COVID-19”, moderator terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada keynote speech yaitu Helena Legido-Quigley selaku Associate professor in Health Systems at Saw Swee Hock School of Public Health at the National University of Singapore. Dalam keynote speech – nya, Helena menjelaskan dari hasil penelitian di berbagai negara mengenai strategi dan operasional untuk merespons pandemi COVIDD-19. Helena menjelaskan sudut pandang yang digunakannya dalam penelitian adalah bagaimana sistem kesehatan dipersiapkan sebelum adanya krisis. Fokus dari penelitian tersebut adalah bagaimana negara dengan sistem kesehatan yang memiliki performa tinggi dalam menghadapi pandemi COVID-19, seperti Jepang, Singapura, dan Hongkong. Kemudian, penanganan pandemi COVID-19 di ketiga negara tersebut akan dibandingkan dengan beberapa negara di Eropa. Indikator utama dalam perbandingan ini adalah kesiapan dalam menghadapi pandemi.

Selanjutnya Helena juga menjelaskan tentang penelitiannya dengan framework yang lebih besar yaitu koordinasi pemerintah pusat dan daerah, keterikatan komunitas, pelaksanaan pengukuran kesehatan masyarakat yang tepat, persiapan sistem kesehatan, dan pengukuran untuk mengontrol perbatasan. Setelah melakukan penelitian di 28 negara, Helena menjelaskan beberapa hal yang bisa dipelajari, yaitu mengaktifkan respon yang komprehensif, adaptasi kapasitas sistem kesehatan, memelihara fungsi dan sumber daya sistem kesehatan, dan mengurangi kerentanan. Dalam penelitiannya, Helena menemukan bahwa di negara yang sukses dalam menerapkan sistem tersebut memiliki beberapa indikator, yaitu memiliki hubungan yang baik dengan komunitas, kepemimpinan yang responsif dan transparan, koordinasi yang baik antar sektor, investasi dalam kesehatan masyarakat dan infrastrukturnya, kepercayaan terhadap saran yang berbasis sains, dan perlindungan social dan ekonomi untuk komunitas dan bisnis kecil.

Sesi II Pembelajaran Respons Sistem Kesehatan di masa Pandemi COVID-19

Setelah keynote speech, Sandra mempersilakan pemateri pertama yaitu dr. Tiara Marthias, MPH, PhD selaku Dosen di Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, FK – KMK UGM, untuk memaparkan “Dampak COVID-19 terhadap layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) di Indonesia: Kasus untuk penguatan sistem kesehatan”. Tiara menjelaskan kondisi layanan KIA selama pandemi COVID-19 berdasarkan data rutin KIA (DHIS-2), indikator, data observasi di 514 kab/kota dan data COVID-19. Dari data tersebut menjelaskan bahwa cakupan ANC (antenatal care), persalinan, postneonatal care dan kunjungan neonatal menurun di awal pandemi. Selain itu, monitoring tumbuh kembang anak turun lebih curam hingga terjadi penutupan Posyandu dan diperburuk juga dengan adanya penurunan jumlah imuniasasi anak. Sebelum menutup pemaparan, dr Tiara menyampaikan bahwa Indonesia perlu memperkuat sistem kesehatan melalui: ketahanan komunitas, koordinasi (vertikal dan horizontal), menyasar determinan sosial kesehatan dan memperkuat program “health emergency”. Sistem kesehatan untuk KIA sendiri membutuhkan  penguatan SDM dan supply yang merata, membangun inovasi layanan keshetana (telemedicine, home visit, task shifting, dan lain – lain), melibatkan sektor swasta dan memperkuat pendanaan dan pembiayaan kesehatan.

Pemapar kedua adalah dr. Yodi Mahendradhata, MSc, PhD, FSRPH selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan, FK – KMK UGM dengan judul “Kesiapsiagaan Pandemi: Refleksi dari Pandemi COVID-19”. Masalah dari pandemi di Indonesia adalah deteksi yang masih lemah sehingga berdampak kepada data yang tersedia untuk pengambil keputusan. Kemudian menjadi prioritas ditengah pandemi di Indonesia adalah permasalahan komunikasi yang di mana infodemik belum di manajemen dengan baik. Keberadaan infodemik ini akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengambil keputusan. Ketidakpercayaan itu semakin diperburuk karena kondisi pandemi ini melihatkan kondisi ekuitas yang mengalami ketimpangan dan ketidakadilan terdap akses maupun dampak.

Pada Juni hingga Juli di Indonesia juga memperlihat bahwa masih adanya sumber daya manusia kesehatan dan supply infrastruktur kesehatan yang terbatas. Dalam akses untuk obat dan vaksin sendiri di tengah pandemi juga menggambarkan bahwa Indonesia masih mengalami ketergantungan dari negara lain sehingga perlu untuk membangun kemandirian. Untuk itu, Yodi menyampaikan ke depan Indonesia perlu meningkatkan sistem peringatan, memanfaatkan data yang lebih baik untuk mendorong keputusan yang lebih cerdas, mengelola komunikasi untuk membangun kepercayaan, meningkatkan ekuitas, memperkuat kapasitas ekuitas dan menyediakan obat dan vaksin secara merata dan mandiri.

Sesi Pembahas

Setelah narasumber selesai, moderator mempersilahkan para pembahas dari Kementerian Kesehatan dan WHO untuk memberikan tanggapan. Pembahas pertama adalah Dra. Pretty Multihartina, Ph.D dari Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan yang memberikan tanggapan bahwa untuk merespons pandemi COVID-19, pemerintah saat ini sedang menyusun kebijakan tranformasi kesehatan. Dra. Pretty juga menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sedang menyusun untuk reformasi kesehatan bersama Bappenas yang terbagi adalah delapan area. Selain itu, Dra. Pretty juga menjelaskan bahwa telah ada rencana aksi nasional untuk health security yang telah diterbitkan pada 2019 dengan melibatkan Kementerain Kesehatan, Kementerian Lembaga lainnya hingga pemerintah daerah.

Pembahas kedua adalah dr. Widiana. K. Agustin, MKM selaku Subkoordinator Sub-Subtansi Evaluasi Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan. dr Widiana menjelaskan tentang kategori sistem ketahanan dalam kebijakan transformasi kesehatan yang sedang disusun oleh Pemerintah. Transformasi pada ketahanan kesehatan ditujukan untuk memperkuat sistem keseahtan dalam menghadapi tantangan seperti pandemi COVID-19 maupun pandemi lainnya. Strategi yang akan digunakan dalam memperkua ketahanan kesehatan ini adalah meningkatkan integrasi, koordinasi dan kolaborasi antara pemerintah, orgnaisasi masyarakat, organisasi profesi, LSM, akademisi, pelaku usaha dan media.

Pembahas terakhir dari sesi ini adalah Dr. Arturo Pesigan, Deputy Head of WHO Indonesia Country Office. Arturi menyampaikan bahwa pandemi di Indonesia telah menjadi isu kesehatan masyarakat dan ekonomi sehingga dalam penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak sektor dan perlu memanfaatkan pembelajaran dari interdisipilin untuk meningkatkan ketahan. Disampaikan juga, bahwa untuk mendukung tranformasi kesehatan, WHO telah menyediakan panduan mengenai ketahanan kesehatan yang dapat dimanfaatkan pengambil keputusan di Indonesia. Selain itu, Arturo menekankan bahwa pengambil keputusan untuk lebih banyak memanfaatkan evidence dan belajar dari pengalaman negara lain untuk menetapkan suatu kebijakan.

Untuk memperkaya sesi ini, moderator juga mempersilahkan tiga partisipan untuk memberikan pertanyaan. Beberapa pertanyaan mengenai layanan vaksinansi ibu hamil, adaptasi mekanisme klaster kesehatan untuk transformasi sistem kesehatan, dan masukan untuk tranformasi kesehatan yang perlu memperhatikan banyak aspek lainnya yang ditujukan untuk pembahas dan narasumber.

Sesi III Community Surveillance Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia

Sesi ketiga, pada topik kedua Ketahanan Sistem Kesehatan ini mengusung subtema yaitu Community Surveillance Selama Pandemi COVID-19 dan pembelajaran untuk Indonesia. Sesi ini dimoderatori oleh dr. Tiara Mathias, MPH, PhD. Pembicara pertama adalah Professor Julie Bines, Deputy Head of Department of Paediatrics at the University of Melbourne, dengan materi deteksi COVID-19 di saluran limbah: pelajaran dari Melbourne. Materi dibuka dengan penjelasan bahwa COVID-19 bisa masuk melalui reseptor yang ada di usus. Gejala COVID-19 juga ada pada saluran pencernaan, lebih banyak ditemui pada anak – anak. Hal ini sangat penting diperhatikan untuk negara seperti Indonesia yang mempunyai banyak kasus diare.

Bines kemudian mengungkapkan studi sebelumnya di negara seperti China, Amerika dan Korea yang menemukan bahwa pelepasan RNA virus dalam tinja sering didapatkan, juga terjadi lebih awal dan dapat berlangsung lama. Bahkan terdapat tingginya persentase pasien dengan sample rectal/stool yang positif, setelah sample dari swab hidung dan tenggorokan negatif. Pertanyaan penting untuk kita pikirkan, apakah implikasinya terhadap transmisi infeksi? Bines menggarisbawahi bahwa deteksi RNA virus dalam tinja tidak selalu berarti bahwa virus dapat menyebar melalui transmisi tinja. Namun yang perlu dipikirkan, bisakah transmisi fekal- o ral dan aerosol berkontribusi pada transmisi rumah tangga, pusat penitipan anak, dan juga sekolah? Beliau kemudian memaparkan surveilens waste water yang digunakan di Melbourne, Australia. Pemerintah setempat telah melakukan pemetaan untuk tes terhadap limbah air di beberapa area, seperti di Upper Yarra dan Apollo Bay.  Bines kemudian menyimpulkan potensi air limbah dan pengawasan lingkungan untuk mendukung respon kesehatan masyarakat selama pandemi SARSCoV-2 ini.

Pembicara kedua adalah dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., PhD, SpA(K), Dosen dan Peneliti di Center of Child Health-Paediatric Research Office (CCH-PRO), FK-KMK UGM, yang memberikan materi terkait penelitiannya yang berjudul Surveilans SARS-CoV-2 menggunakan sampel air limbah rumah tangga dan lingkungan di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk menginformasikan dampak dan kelayakan program pengawasan air limbah dan lingkungan di Indonesia, memantau beban komunitas dari infeksi SARS-CoV2 dan sebagai sistem peringatan dini untuk identifikasi dini wabah SARS-CoV2 dalam suatu komunitas.

Metodologi yang dilakukan ada beberapa macam, antara lain: surveilens rutin di mana sampel air dan/atau tanah dikumpulkan dari saluran pembuangan dan air limbah, penelitian laboratorium, analisa data, dan pelaporan. Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Sampling sebanyak 1344 telah mulai dikumpulkan pada Juli 2021. Dari hasil penelitian  mengkonfirmasi penelitian sebelumnya bahwa, positivity rate menggunakan N gene pada sampel limbah air tetap tinggi  di atas 50 % di minggu ke delapan, walaupun konfirmasi kasus COVID-19 idi minggu yang sama sudah menurun signifikan, yaitu 5%. Tes lain yang digunakan ORF1ab gene. Selain itu, Murni dan peneliti lainnya juga menggunakan pemetaan untuk menentukan resiko transmisi. Pemetaan ini memakai sistem warna, maupun juga titik. Dari penelitian ini, kita bisa melihat bahwa kemungkinan memakai limbah air untuk  early warning systems terkait penularan COVID-19 di suatu daerah itu bisa dilakukan di Yogyakarta.

Pembicara ketiga adalah dr. Vicka Oktaria, MPH, PhD, Dosen dan Peneliti di Center of Child Health-Paediatric Research Office (CCH-PRO), FK-KMK UGM, dengan materi implikasi masa depan penggunaan surveilans berbasis sampel air limbah rumah tangga dan lingkungan untuk SARS-CoV-2. Diketahui bahwa tantangan lain yang dihadapi saat ini untuk mengatasi COVID-19, adalah  melacak inisiasi, penyebaran, dan tren perubahan COVID-19 pada skala populasi yang luas, dan kebutuhan mendesak untuk memetakan sebaran dan besarnya COVID-19 secara real-time. Dengan Water Based Epidemiology (WBE  ini dapat membantu menargetkan populasi beresiko, memandu untuk intervensi Kesehatan masyarakat, mengalokasikan sumber daya untuk pengujian atau vaksinasi, serta untuk kebijakan kontrol  dalam meminimalkan terjadinya lonjakan kasus.

Terdapat tiga lokasi yang memungkinkan untuk mengumpulkan data WBE ini, yaitu: instalasi pembuangan air limbah, sub saluran pembuangan, dan di fasilitas seperti sekolah, kampus dan  perumahan. Oktaria menyampaikan contoh negara yang sudah mengimplementasi WBE ini, seperti  di Australia, di mana ketika fragmen virus COVID-19 ditemukan di limbah pembuangan kemudian mereka mengeluarkan pemberitahuan Kesehatan kepada masyarakat. Hal yang sama juga sudah dilakukan di Bangladesh, yaitu dengan pemetaan terhadap daerah yang ditemukan fragmen virus ini melalui deteksi di pembuangan limbah. Pesan yang bisa diambil dari presentasi Oktaria adalah WBE bisa melengkapi surveilens komunitas untuk COVID-19 yang saat ini dihunakan, bisa membantu mendeteksi transmisi yang sedang terjadi, namun tetap membutuhkan kolaborasi antara pemangku kepentingan dan komunikasi ke masyarakat.

Sesi Pembahas

Selanjutnya drg. Pembayun Setyaning Astutie, M.Kes dari Dinas Kesehatan Provinsi DI Yogyakarta menanggapi presentasi dari narasumber. Pembayun menyatakan bahwa limbah medis, terutama limbah padat, sudah terkelola dengan baik di DIY. Namun, yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah pengolahan limbah cair dan limbah rumah tangga terkait COVID-19 (karena pengaruh isolasi mandiri) yang meningkat selama pandemi ini. Pembayun sangat mendukung penelitian dan temuan yang telah disampaikan. Terdapat pembelajaran dari pandemi ini terkait pengelolaan air limbah, yaitu perlu ada kajian kenaikan RNA pada air limbah rumah tangga untuk deteksi dini gelombang kasus yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Tantangan dalam pengelolaan limbah COVID-19, yaitu pertama, diskresi regulasi pengelolaan limbah sesuai prinsip keamanan dan kemampuan daerah. Kedua, pemerintah daerah harus memikirkan untuk menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan limbah padat dan cair dalam situasi wabah untuk fasyankes, isolasi terpadu dan isolasi mandiri.  Ketiga, perlu adanya regulasi tentang baku mutu limbah COVID-19. Tanggapan selanjutnya dari Endang Hastuti dari Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan. Beliau tertarik akan penelitian terkait early detection COVID-19 menggunakan air limbah. Beliau juga mengharapkan agar penelitian ini bisa menjadi masukan untuk kebijakan terkait.

Pada sesi diskusi, narasumber menekankan pentingnya koordinasi dan kolaborasi dari stakeholder terkait untuk bisa menggunakan sistem deteksi awal ini. Hal yang perlu disiapkan jika menggunakan strategi ini adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusianya, peralatan yaitu laboratorium, kolaborasi dengan dinas Kesehatan, bagian lab dan juga masyarakat. Narasumber menekankan bahwa metode pelacakan dengan air limbah ini sangat membantu untuk penemuan kasus di daerah yang testingnya masih rendah.

Reporter: Tri Muhartini dan Sandra Frans